Lakon Wayang Dan Lakon Kita
> Menafsir kembali salah satu segmen dari lakon
> wayang,
> sudah dilakukan Teater Koma sejak 1978 (lakon
> Maaf.Maaf.Maaf). Dan sama seperti yang sering
> disebut
> oleh banyak dalang wayang, saya juga menyebut
> 'penafsiran kembali' itu sebagai carangan atau
> versi.
> Sumber utama lakon adalah Ramayana karya Walmiki dan
> epos Mahabharata karya Vyasa.
>
> Pada masa Kerajaan Mataram Hindu, Ramayana dan
> Mahabharata yang mulanya ditulis dalam Bahasa
> Sanskerta diterjemankan ke dalam Bahasa Jawa Kuno.
> Peristiwa itu terjadi sekitar tahun 856. Gambar
> adegan
> lakon serta para tokohnya kemudian ditatahkan di
> dinding-dinding candi. Di zaman Kerajaan Kediri,
> cerita dan bentuk wayang disesuaikan lagi dengan
> budaya lokal. Tercatat dalam sejarah, raja-raja
> Kediri
> sejak Mpu Sendok (928-947) hingga Gusti Jayabaya
> (1130-1160), sangat memperhatikan perkembangan
> kesenian wayang. Banyak buku tentang wayang ditulis
> oleh para pujangga masa itu.
>
> Pada zaman Kerajaan Majapahit, 1293-1528, wayang
> mengalami penyesuaian. Bentuk tokoh-tokoh wayang
> digambar di atas kertas atau kain dan diberi warna.
> Bentuk itu disebut Wayang Beber Purwa. Pementasannya
> diiringi gamelan slendro. Lakon yang ditulis kembali
> oleh para pujangga dan berbagai carangan lahir pula.
> Maka, pakem lakon yang berasal dari India itu,
> seakan
> makin memperoleh pengkayaan lewat tafsir kisah dan
> perubahan bentuk tokoh.
>
> Majapahit runtuh dan Kerajaan Demak berdiri. Cerita
> dan bentuk wayang kembali mengalami penyesuaian,
> Raden
> Patah yang bergelar Sultan Sah Alam Akbar
> (1478-1518)
> dan Wali Songo (Maulana Malik Ibrahim, Sunan
> Ngampel,
> Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Giri, Sunan
> Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria dan Sunan
> Gunungjati) mengubah sasaran lakon wayang menjadi
> salah satu medium penyebaran agama.
>
> Bentuk wayang tidak lagi menyerupai manusia, tapi
> miring (pipih) dengan dua tangan yang bisa
> digerak-gerakan. Gambar-gambar tokoh dalam Wayang
> Beber Purwa Majapahit, dipilah satu-satu sehingga
> menjadi karakter yang mandiri. Bahan utama karakter
> wayang terbuat dari kulit kerbau yang ditatah halus,
> diwarnai (hitam-putih) dan diberi pegangan (gapit)
> yang bisa ditancapkan ke batang pisang (debog) atau
> kayu yang dilubangi. Tontonan wayang sangat
> digemari.
> Lakon yang dibawakan bersumber dari Wayang Purwa.
>
> Pada masa Kerajaan Pajang, 1546-1586, bentuk wayang
> memiliki warna yang lebih bervariasi. Selain hitam
> dan
> putih, warna emas (prada) juga mulai dikenal. Banyak
> pula dalang kreatif yang melahirkan berbagai lakon
> carangan. Pakem lakon dari India 'hanya'
> dimanfaatkan
> sebagai narasumber imajinasi.
>
> Tak bisa dipungkiri, Para Wali memang memiliki andil
> yang besar dalam upaya mengembangkan kesenian
> wayang.
> Sunan Giri mencipta Wayang Gedog tanpa raksasa dan
> kera untuk lakon Wayang Panji, 1563. Pada tahun yang
> sama, Sunan Bonang mencipta Wayang Beber Gedog. Dia
> juga menulis Serat Damarwulan dan Ratu Kenconowungu.
> Sunan Kalijaga mencipta topeng yang bentuknya mirip
> dengan karakter Wayang Purwa, 1586. Dan Sunan Kudus,
> 1584,mencipta wayang kayu berbentuk pipih dengan
> tangan terbuat dari kulit. Bentuk itu kemudian
> disebut
> Wayang Krucil atau Wayang Golek Purwa.
>
> Pada Kerajaan Mataram Islam, pangeran Seda Krapyah
> (1601-1613) melakukan upaya penyesuaian lagi. Bentuk
> wayang memiliki dua tangan yang bisa digerakkan
> dengan
> lebih bebas karena diberi tulang bambu. Dia juga
> menciptakan Wayang Dagelan atau lawakan Semar,
> Bagong,
> Cengguris dan Cantrik. Konon, pada masa itulah
> karakter Bagong dilarang muncul oleh Pemerintah
> Kolonial Hindia Belanda. Lewat lawakannya, Bagong
> dianggap terlalu 'lancang' mengritik kebijakan
> pemerintah jajahan. Bagong masuk kotak, tapi para
> dalang yang kreatif melahirkan karakter Cengguris
> sebagai gantinya.
>
> Kisah perkembangan wayang di Indonesia, sudah
> ditulis
> hingga berjilid-jilid buku. Banyak yang dilakukan
> para
> pujangga, perupa wayang dan dalang sehingga kita
> mengenal wayang dalam bentuknya yang sekarang. Lakon
> digali dan digali terus-menerus, seakan tak
> habis-habis. Bentuk karakter wayang disesuaikan dan
> disesuaikan lagi berdasarkan tuntutan zaman. Lakon
> wayang dan karakter wayang, menjadi harta
> intelektual
> yang amat besar nilainya. Menjadi sumber ilham yang
> sangat inspiratif, ajaran moral yang bermutu tinggi.
>
>
> Kyai Yosodipuro, Raden Ngabehi Ronggowarsito,
> Mangkunegoro IV, VI dan VII, adalah tokoh-tokoh yang
> tercatat sangat berjasa dalam upaya pengembangan
> kesenian wayang. Patokan lakon yang kemudian disebut
> pakem, berasal dari hasil kreatifitas mereka. Pakem
> yang, sesungguhnya, jauh berbeda dengan pakem
> aslinya
> dari India. Satu contoh, tokoh para panakawan
> misalnya, tak ada di dalam Ramayana dan Mahabharata.
> Sebagian besar tokoh satria, juga mengalami
> penyesuaian dengan adat, filosofi dan perilaku
> bangsa
> Jawa.
>
> Dalam perjalanan kreatif penulisan lakon, saya
> bersyukur memiliki babon atau narasumber lakon yang
> tak pernah habis digali. Mitologi Yunani (Iliad
> karya
> Homerus) adalah babon yang pertama. Dongeng-dongeng
> dari Negeri Cina, menjadi narasumber kedua.
> Karya-karya William Shakespreare dan Moliere (yang
> saya anggap sebagai lakon Wayang Inggris' dan
> 'Wayang
> Prancis'), adalah submer inspirasi yang ketiga. Tapi
> setiap kali menulis lakon, jika ilham datang dari
> ketiga narasumber itu, saya sering memandangnya dari
> sisi karakter lakon wayang. Lalu saya berupaya
> mengawinkan berbagai energinya sehingga menjadi
> sinergis.
>
> Jika sumber ilham datang dari lakon wayang
> (Mahabharata atau Ramayana), saya juga berupaya
> menyadurnya sehingga kisah menjadi masa kini.
> Menjadi
> lakon yang dekat di sekitar kita, milik kita,
> masalah
> kita. Bahkan lakon karya Bertolt Brecht pun saya
> coba
> sadur lewat jalan pikiran wayang.
>
> Hampir seluruh karakter manusia, plus detilnya,
> tersirat di dalam lakon-lakon empat babon atau
> narasumber itu. Intisari lakon sama. Penyesuaian
> yang
> dilakukan hanya karena zaman, keadaan, lingkungan
> dan
> asesori yang berbeda. Justru yang paling penting
> adalah tafsir lakon, yang biasanya, malah menjadi
> roh
> penggerak energi kreatif ke arah tujuan yang hendak
> diungkapkan.
>
> Bagi saya, kesenian adalah 'seni menafsir alam dan
> kehidupan'. Tujuannya hanya satu 'berterimakasih
> kepada alam dan kehidupan'. Apa pun anugerah alam
> dan
> kehidupan kepada kita, buruk atau baik, tetap harus
> disebut sebagai anugerah. Alam dan kehidupan yang
> dijaga, semoga sudi memberikan anugerah yang
> bermanfaat. ALam dan kehidupan yang ditelantarkan,
> bahkan dilupakan, sudah barang tentu akan menuai
> ganjaran lewat bentuk hukuman yang bervariasi.
> Nikmat
> dan azab terjadi akibat perilaku manusia sendiri.
> Sebuah hukum sebab-akibat. Tapi kita sering lupa
> diri.
> Saya percaya, alam dan kehidupan senantiasa berjaga.
> Sepanjang masa.
>
> Sesungguhnya kita adalah wayang yang digerakkan oleh
> 'dalang'. Kita tak berdaya karena alur cerita bukan
> milik kita. Sebagai wayang, garis nasib ada di
> tangan
> 'dalang'.
>
> Tapi, kadang kita tinggi hati. Sering 'kerasukan'
> Kalika dan ratu setan Durga. Merasa lebih dari
> 'dalang' menganggap diri berkuasa. padahal kita
> hanya
> muncul kalau dibutuhkan. Jika tidak, kita tetap
> tergeletak di dalam kotak. Iklas adalah sikap bijak
> wayang,
> sudah dilakukan Teater Koma sejak 1978 (lakon
> Maaf.Maaf.Maaf). Dan sama seperti yang sering
> disebut
> oleh banyak dalang wayang, saya juga menyebut
> 'penafsiran kembali' itu sebagai carangan atau
> versi.
> Sumber utama lakon adalah Ramayana karya Walmiki dan
> epos Mahabharata karya Vyasa.
>
> Pada masa Kerajaan Mataram Hindu, Ramayana dan
> Mahabharata yang mulanya ditulis dalam Bahasa
> Sanskerta diterjemankan ke dalam Bahasa Jawa Kuno.
> Peristiwa itu terjadi sekitar tahun 856. Gambar
> adegan
> lakon serta para tokohnya kemudian ditatahkan di
> dinding-dinding candi. Di zaman Kerajaan Kediri,
> cerita dan bentuk wayang disesuaikan lagi dengan
> budaya lokal. Tercatat dalam sejarah, raja-raja
> Kediri
> sejak Mpu Sendok (928-947) hingga Gusti Jayabaya
> (1130-1160), sangat memperhatikan perkembangan
> kesenian wayang. Banyak buku tentang wayang ditulis
> oleh para pujangga masa itu.
>
> Pada zaman Kerajaan Majapahit, 1293-1528, wayang
> mengalami penyesuaian. Bentuk tokoh-tokoh wayang
> digambar di atas kertas atau kain dan diberi warna.
> Bentuk itu disebut Wayang Beber Purwa. Pementasannya
> diiringi gamelan slendro. Lakon yang ditulis kembali
> oleh para pujangga dan berbagai carangan lahir pula.
> Maka, pakem lakon yang berasal dari India itu,
> seakan
> makin memperoleh pengkayaan lewat tafsir kisah dan
> perubahan bentuk tokoh.
>
> Majapahit runtuh dan Kerajaan Demak berdiri. Cerita
> dan bentuk wayang kembali mengalami penyesuaian,
> Raden
> Patah yang bergelar Sultan Sah Alam Akbar
> (1478-1518)
> dan Wali Songo (Maulana Malik Ibrahim, Sunan
> Ngampel,
> Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Giri, Sunan
> Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria dan Sunan
> Gunungjati) mengubah sasaran lakon wayang menjadi
> salah satu medium penyebaran agama.
>
> Bentuk wayang tidak lagi menyerupai manusia, tapi
> miring (pipih) dengan dua tangan yang bisa
> digerak-gerakan. Gambar-gambar tokoh dalam Wayang
> Beber Purwa Majapahit, dipilah satu-satu sehingga
> menjadi karakter yang mandiri. Bahan utama karakter
> wayang terbuat dari kulit kerbau yang ditatah halus,
> diwarnai (hitam-putih) dan diberi pegangan (gapit)
> yang bisa ditancapkan ke batang pisang (debog) atau
> kayu yang dilubangi. Tontonan wayang sangat
> digemari.
> Lakon yang dibawakan bersumber dari Wayang Purwa.
>
> Pada masa Kerajaan Pajang, 1546-1586, bentuk wayang
> memiliki warna yang lebih bervariasi. Selain hitam
> dan
> putih, warna emas (prada) juga mulai dikenal. Banyak
> pula dalang kreatif yang melahirkan berbagai lakon
> carangan. Pakem lakon dari India 'hanya'
> dimanfaatkan
> sebagai narasumber imajinasi.
>
> Tak bisa dipungkiri, Para Wali memang memiliki andil
> yang besar dalam upaya mengembangkan kesenian
> wayang.
> Sunan Giri mencipta Wayang Gedog tanpa raksasa dan
> kera untuk lakon Wayang Panji, 1563. Pada tahun yang
> sama, Sunan Bonang mencipta Wayang Beber Gedog. Dia
> juga menulis Serat Damarwulan dan Ratu Kenconowungu.
> Sunan Kalijaga mencipta topeng yang bentuknya mirip
> dengan karakter Wayang Purwa, 1586. Dan Sunan Kudus,
> 1584,mencipta wayang kayu berbentuk pipih dengan
> tangan terbuat dari kulit. Bentuk itu kemudian
> disebut
> Wayang Krucil atau Wayang Golek Purwa.
>
> Pada Kerajaan Mataram Islam, pangeran Seda Krapyah
> (1601-1613) melakukan upaya penyesuaian lagi. Bentuk
> wayang memiliki dua tangan yang bisa digerakkan
> dengan
> lebih bebas karena diberi tulang bambu. Dia juga
> menciptakan Wayang Dagelan atau lawakan Semar,
> Bagong,
> Cengguris dan Cantrik. Konon, pada masa itulah
> karakter Bagong dilarang muncul oleh Pemerintah
> Kolonial Hindia Belanda. Lewat lawakannya, Bagong
> dianggap terlalu 'lancang' mengritik kebijakan
> pemerintah jajahan. Bagong masuk kotak, tapi para
> dalang yang kreatif melahirkan karakter Cengguris
> sebagai gantinya.
>
> Kisah perkembangan wayang di Indonesia, sudah
> ditulis
> hingga berjilid-jilid buku. Banyak yang dilakukan
> para
> pujangga, perupa wayang dan dalang sehingga kita
> mengenal wayang dalam bentuknya yang sekarang. Lakon
> digali dan digali terus-menerus, seakan tak
> habis-habis. Bentuk karakter wayang disesuaikan dan
> disesuaikan lagi berdasarkan tuntutan zaman. Lakon
> wayang dan karakter wayang, menjadi harta
> intelektual
> yang amat besar nilainya. Menjadi sumber ilham yang
> sangat inspiratif, ajaran moral yang bermutu tinggi.
>
>
> Kyai Yosodipuro, Raden Ngabehi Ronggowarsito,
> Mangkunegoro IV, VI dan VII, adalah tokoh-tokoh yang
> tercatat sangat berjasa dalam upaya pengembangan
> kesenian wayang. Patokan lakon yang kemudian disebut
> pakem, berasal dari hasil kreatifitas mereka. Pakem
> yang, sesungguhnya, jauh berbeda dengan pakem
> aslinya
> dari India. Satu contoh, tokoh para panakawan
> misalnya, tak ada di dalam Ramayana dan Mahabharata.
> Sebagian besar tokoh satria, juga mengalami
> penyesuaian dengan adat, filosofi dan perilaku
> bangsa
> Jawa.
>
> Dalam perjalanan kreatif penulisan lakon, saya
> bersyukur memiliki babon atau narasumber lakon yang
> tak pernah habis digali. Mitologi Yunani (Iliad
> karya
> Homerus) adalah babon yang pertama. Dongeng-dongeng
> dari Negeri Cina, menjadi narasumber kedua.
> Karya-karya William Shakespreare dan Moliere (yang
> saya anggap sebagai lakon Wayang Inggris' dan
> 'Wayang
> Prancis'), adalah submer inspirasi yang ketiga. Tapi
> setiap kali menulis lakon, jika ilham datang dari
> ketiga narasumber itu, saya sering memandangnya dari
> sisi karakter lakon wayang. Lalu saya berupaya
> mengawinkan berbagai energinya sehingga menjadi
> sinergis.
>
> Jika sumber ilham datang dari lakon wayang
> (Mahabharata atau Ramayana), saya juga berupaya
> menyadurnya sehingga kisah menjadi masa kini.
> Menjadi
> lakon yang dekat di sekitar kita, milik kita,
> masalah
> kita. Bahkan lakon karya Bertolt Brecht pun saya
> coba
> sadur lewat jalan pikiran wayang.
>
> Hampir seluruh karakter manusia, plus detilnya,
> tersirat di dalam lakon-lakon empat babon atau
> narasumber itu. Intisari lakon sama. Penyesuaian
> yang
> dilakukan hanya karena zaman, keadaan, lingkungan
> dan
> asesori yang berbeda. Justru yang paling penting
> adalah tafsir lakon, yang biasanya, malah menjadi
> roh
> penggerak energi kreatif ke arah tujuan yang hendak
> diungkapkan.
>
> Bagi saya, kesenian adalah 'seni menafsir alam dan
> kehidupan'. Tujuannya hanya satu 'berterimakasih
> kepada alam dan kehidupan'. Apa pun anugerah alam
> dan
> kehidupan kepada kita, buruk atau baik, tetap harus
> disebut sebagai anugerah. Alam dan kehidupan yang
> dijaga, semoga sudi memberikan anugerah yang
> bermanfaat. ALam dan kehidupan yang ditelantarkan,
> bahkan dilupakan, sudah barang tentu akan menuai
> ganjaran lewat bentuk hukuman yang bervariasi.
> Nikmat
> dan azab terjadi akibat perilaku manusia sendiri.
> Sebuah hukum sebab-akibat. Tapi kita sering lupa
> diri.
> Saya percaya, alam dan kehidupan senantiasa berjaga.
> Sepanjang masa.
>
> Sesungguhnya kita adalah wayang yang digerakkan oleh
> 'dalang'. Kita tak berdaya karena alur cerita bukan
> milik kita. Sebagai wayang, garis nasib ada di
> tangan
> 'dalang'.
>
> Tapi, kadang kita tinggi hati. Sering 'kerasukan'
> Kalika dan ratu setan Durga. Merasa lebih dari
> 'dalang' menganggap diri berkuasa. padahal kita
> hanya
> muncul kalau dibutuhkan. Jika tidak, kita tetap
> tergeletak di dalam kotak. Iklas adalah sikap bijak


0 Comments:
Post a Comment
<< Home