Sunday, August 27, 2006

Sinden Dusun Perlak

Sinden dusun Perlak

Angin malam dingin menusuk setiap inchi tubuhku, membuatku tak ingin berlama di dalam kepungan suara gendang dan siter. Suara sang dalang memainkan wayang terdengar seperti sebuah piringan hitam kusam yang kebanyakan diputar ulang.tak tentu suaranya. Tapi tetap saja kumainkan sebuah tembang sumbang pelengkap malam yang muram. Tetap aku seorang pesinden, dari sebuah dusun kecil di selatan sebuah kota besar. Perlak tempat lahir dan besarku. Tempat kumengenal sinden dari kedua orangtuaku yang juga pesinden terkenal pada masanya, tempat yang memberi sebuah harapan kosong masa depan.
Aku masih ingat ketika masa kecil dulu emak mengajariku sebuah tembang jawa ‘..yen neng tawang ono lintang…cah ayu..’ tembang itu masih begitu hingga kini kudewasa dan begitu fasih menyanyikan lagu yang dulu begitu lucu kalau aku yang melantunkannya. Tiga belas tahun sudah aku bergelut dalam dunia persindenan, praktis sudah memakan setengah dari usiaku kini.
Dulu, jaman aku masih kecil kira-kira sepuluh tahunan, sinden begitu tenar dan bagai seorang biduan yang dielu-elukan penggemarnya. Emak, yang kala itu masih begitu ayu tak pelak jadi salah satu primadona di desaku, bahkan orang-orang dari desa sebelah sangat hapal dengan aku si Parni, anak pesinden terkenal dari desa perlak.
Tiupan angin semilir yang semakin dingin tiba-tiba menyergapku di keheningan malam ditengah lamunanku. Ah..besok sudah harus manggung lagi. Ya, aku ada pesanan manggung dari desa sebelah untuk sebuah acara kemerdekaan, acara yang sejak dulu kunanti tapi juga selalu membuatku menangis. Betapa tidak, malam “pitulasan” yang selalu diramaikan orang itu adalah rejeki nomplok buatku. Pesanan manggung didekat hari-hari itu tak pernah sepi rasanya. Dari panggung kepanggung aku selalu menjual suaraku untuk meramaikan suasana. Pitulasan juga membuatku menangis karena sampai sekarang aku juga tidak pernah mengerti apa yang disebut merdeka oleh para penggede-penggede itu. “Oalah Par..Par..wong kere kok mikir negoro, merdeko, golek mangan wae kono gak usah neko-neko..” begitu selalu komentar yu Paidjem, penjual gudeg gendong kalo aku tanyakan arti tentang pidato-pidato pak lurah di panggung tujuh belasan.
Yu paidjem mungkin benar, merdeka atau apapun istilahnya sepertinya memang terlalu mewah untuk dimiliki kaum seperti aku ini, pesinden “ndeso”, sekolah sampai SD dan beranak banyak dan kere pula. Lengkap sudah sepertinya jalan hidupku ini. ”..urip iku…..namung mampir ngombe….” Tembang itupun meluncur tiba-tiba dari mulutku dan siterku dengan cekatan mengikuti nadanya. Memang, hidup itu ibarat Cuma mampir untuk minum. Ajaran kedua orang tuaku itu selalu melapangkan jalanku.
Ah..sudahlah, hari semakin beranjak malam. Aku harus istirahat. Besok aku manggung di desa Sidoajur, desa sebelah.
Suara jangkrik kembali menyeruak seoalah-olah ingin menggantikan lantunan siter Parni. Malam semakin larut, burung hantu disudut pohon yang sedari tadi memperhatikan polah sang tikus di halaman rumah Parni mulai beranjak dari tempatnya dan mengepakan sayapnya.malam mulai menunaikan tugasnya.

Pagi menjelang….

“….Bang sms dari siapa bang?..bang kok pake sayang-sayang?....” sayup-sayup terdengar lagu dangdut yang sedang jadi tren anak muda terdengar dari kejauhan. Langkah Parni semakin tergesa-gesa. Acara sudah dimulai rupanya. Sebentar lagi giliran dia. “kang, ayo agak cepat sedikit, aku takut terlambat ini..” ajakku ke kang Parjo, pemain siter yang akan menemaniku manggung nanti. Dengan sigap lelaki tua paruh baya itu menambah kecepatan langkahnya.
Tak berapa lama sampaialah aku di desa Sidoajur. Untung aku belum telat. “ah…syukurlah Par kita belum telat..” kata kang Parjo, aku mengangguk saja mengiyakan sambil menahan nafas. “oalah ini tho sindenya? Mari-mari silahkan masuk kesini..” suara bu Paiman mengagetkan aku dan kang Parjo yang belum sempat mendudukan pantat. “mari silahkan istirahat didalam sini sambil dandan-dandan dulu mbakyu..” ajak bu Paiman.
Tak sampai setengah jam aku dan kang Parjo sudah siap. Sambil menunggu giliran aku jadi teringat bagaimana nama desa ini dulu berganti. Waktu itu sekitar umur lima tahunan aku ingat bapak cerita kalau desa ini dulu pernah ada kejadian luar biasa, nama desa ini dulunya Sidodadi. Kejadian itu begitu luar biasanya hingga membuat desa ini tak pantas lagi menyandang nama Sidodadi. Oleh para tetua desa, namanya diubah jadi Sidoajur. Kejadian luar biasa itu berawal dari munculnya sumber mata air yang tiba-tiba menggenangi sebagian wilayah desa. Bertahun-tahun para warga desa tak mampu membendung derasnya kucuran air dari tanah ini. Syahdan, terbentuklah sebuah danau dan sialnya danau itu selalu membesar. Aneh bin ajaib air dari dalam tanah tersebut lama-kelamaan kian mengecil tatkala orang-orang menjuluki desa ini sebagai desa Sidoajur. Sejak saat itu desa ini terkenal sebagai desa Sidoajur.
“mbakyu, bangun mbakyu…sekarang giliran sampean manggung..” tidur ayamku tiba-tiba terbangun. Bu Paiman membangunkanku.Taksadar sudah hampir seperempat jam aku terlelap. Kutengok kang Parjo, dia juga masih terlelap. Kubangunkan dia. Rupanya kami kelelahan tadi. “Kang bangun kang…”
Tepuk tangan begitu meriah menyambut kedatangan kami diatas panggung. “inilah dia, pesinden yang selalu kita tunggu-tunggu….Nyi….Par….ni….” suara pembawa acara lantang memperkenalkan kami.
Kang parjo mulai memainkan siternya. “Par, parangtritis Par...slendro yo” bisik kang Parjo memberi tahu lagu yang akan dimainkan.
“…rasane kepengen nangis yen kelingan parangtritis neng ati koyo diiris..ombak gede, katon ngawe-ngawe..nelongso neng ati rasane…” tembang itupun meluncur dengan manisnya. Penonton seolah dibawa terhenyak kekenangan masa lalu. Masa ketika desa mereka masih bernama Sidodadi dan bukan Sidoajur seperti sekarang. Aku tetap menyanyi hingga tuntas diiringi siter kang Parjo dan hembusan angin danau Sidoajur.


Jakarta, minggu sore 27/8/06

Sastrawan Pinggir Jalan

0 Comments:

Post a Comment

<< Home