Monday, September 11, 2006

Ketika Senja Memerah di Sudut Yogya



Ketika Senja Memerah di Sudut Yogya
Oleh: Affan Santosa

Aku masih terlelap dalam mimpiku, ketika kereta senja Yogya-Jakarta meniti jalanan besi di stasiun tugu Yogya. Perlahan namun pasti, kulangkahkan kakiku yang terasa kaku termakan waktu menuju harapan baru di kota yang selama ini menjadi impianku semasa aku masih duduk di bangku SMU dulu. Jogja, ternyata masih sama seperti dulu. Kereta berkuda, pedagang pinggir jalan Malioboro, dan ramainya lalu-lalang sepeda kumbang seakan selalu menyapa setiap mereka yang datang.
Sekejap, lamunanku terpecahkan oleh hingar-bingar suara yang tiba-tiba muncul menyeruak seakan menendang-nendang jantung dan telingaku.
“Tolong!…jangan pukul kami Pak, kami orang baik-baik. Kami hanya orang kecil. Kami tak tahu apa-apa!”. teriak mereka yang sempat tertangkap oleh telingaku. Aku masih bingung dan mencari-cari dari mana arah suara itu datang.
Tiba-tiba “braak!!”
“Aduh, maaf mas. Saya tak sengaja” seseorang menabraku dari arah belakang. Aku yang tak siap dengan itu, jatuh tersungkur dan mencium tanah didepanku.
“ Kamu ini bagamana sih, masak orang segede gini kamu nggak lihat!?” bentakku penuh kesal.
“ Maaf mas, saya tak sengaja. Saya sedang terburu-buru. Petugas mengejar kami” jawabnya beralasan.
Belum sempat aku bertanya kenapa dia dikejar, tiba-tiba datang orang-orang disekitar stasiun mengelilingi kami. Salah satu diantara mereka berteriak “Udah mas, pukul aja, buat apa dikasihani”
“Iya, pukul aja” sahut yang lain.
Orang yang tadi menabraku tampak takut sekali. Wajahnya memelas, bajunya kumal. raut mukanya penuh goresan akan perjalan hidupnya, yang nampaknya selalu dilanda kemelaratan dan penderitaan.
Sebentar kemudian, ia sudah berdiri dan lari menerobos barisan orang-orang yang telah mengelilingi kami dari tadi. Begitu cepatnya, sampai aku tak sempat memberikan reaksi apapun. Begitu juga orang-orang itu. Hanya melongo.
Kejadian di stasiun siang itu perlahan mulai kulupakan. Tapi aku tetap tak habis pikir, kenapa tiba-tiba saja ada beberapa aparat menguber-uber orang-orang yang dari segi fisiknya saja, sudah bukan tandingannya. Apakah mereka maling? Tanyaku dalam hati suatu kali. Orang-orang yang distasiunpun, saat itu, tak ada yang buka mulut ketika kutanyakan sebabnya. Semua diam.
Hari-hari berikutnya, aku mulai menyibukan diriku dalam perkuliahan. Aku diterima disebuah Perguruan Tinggi yang bonafide dikota ini. Tanpa terasa olehku, satu bulan sudah aku disini.
Suatu senja, ketika kupulang dari kampus, seperti biasa kususuri jalanan kota ini dari ujung keujung, dari sudut kesudut, seakan tak pernah ada habisnya. Bau tanah basah masih segar tercium setelah tersiram hujan siang harinya. Hari ini tak seperti biasanya. Matahari enggan menampakan sinar emasnya dari balik peraduan. Warna merah yang biasanya menemaniku dalam perjalanan pulang pun, tampaknya enggan menyapa. Bis kota yang selalu setia menemaniku terasa malas melajukan rodanya dijalanan yang masih tampak basah itu. Perlahan namun pasti, bis tua itu membawaku ketujuan: Sebuah toko buku. Aku berencana akan membeli sebuah di toko itu.
Sebentar kemudian, aku telah sampai ditujuan. Kulangkahkan kakiku menuju kedalam.
Pemberdayaan Kaum Miskin, Hak Asasi Manusia, Memanusiakan Manusia, Hakekat Kemanusiaan....aku bingung memilih yang mana. Yang pasti kutahu, itu semua kuperlu. Ya, supaya rasa kemanusiaanku benar-benar utuh sebagai seorang manusia.
Kemanusian?…rasanya ada yang janggal dengan kata itu. Entahlah, yang pasti aku belum bisa mengerti benda semacam apakah kemanusiaan itu. Biarlah….
“Sore mas, bisa saya bantu?” suara pelayan toko itu memecah lamunanku.
“Sore,” jawabku pendek
“Mau cari buku apa mas, buku ekonomi, politik, budaya, atau sastra?, disini dijamin murah lho mas. Diskonya gede lagi” lanjut pelayan itu setengah berpromosi.
Aku hanya diam saja mendengar promosi pelayan itu. Tiba-tiba saja rasa inginku jadi hilang. Aku jadi rindu kamar kostku. Aku ngantuk.
***
“Ron,..bangun Ron. Sudah pagi lho, Kamu kuliah nggak?!”. Teriak Ardi dari luar kamarku.
“ya…!” jawabku sambil kubuka mata yang rasanya masih terasa berat ini.
Kubangkitkan tubuhku dari pembaringan, pintu kubuka, jendela yang dari tadi malam lupa kukunci kubuka lebar-lebar. Angin pagi menyapaku. Begitu segar dan cerah suasana pagi ini.
“Di, kamu hari ini kuliah apa?” tanyaku pada Ardi yang duduk-duduk cari angin di depan kamarku.
“Nggak ada kuliah, aku libur” jawab ardi tanpa menoleh sedikitpun kearahku.
“Aku juga, rasanya malas pagi-pagi begini kuliah. Paling enak jalan-jalan. Ya nggak Di?”
“Iya, lagipula kamu kan belum lama dikota ini. Kenapa nggak jalan-jalan aja?” usulnya.
“ Kamu mau ikut Di?” tanyaku kemudian
“Nggak, aku banyak tugas yang belum selesai”.jawab Ardi
“Oh,..ya sudah kalau begitu. Aku mandi dulu ya..”
“Iya, Tapi nggak usah pakai lama ya. Aku juga mau mandi sebentar lagi” Pinta Ardi padaku.
Aku tak menjawab. Hanya anggukan kepala tanda mengiyakan saja yang kuberikan. Kemudian kupalingkan tubuhku dari hadapan Ardi dan bergegas menuju ke kamar mandi.
Sepuluh menit lebih sedikit aku selesai mandi. Berpakaian, dan siap pergi kemanapun angin pagi nan segar ini akan membawaku.
Ketika sang surya mulai beranjak meninggi, tubuhku sudah berada diatas besia tua beroda empat yang selalu setia menemaniku kemanapun aku ingin pergi. Ya, angkutan kota. Hari ini aku tak punya tujuan yang pasti. Aku hanya mengikuti apa kata hati.
Malioboro, Keraton, Alun-alun Utara, semua sudah kulewati. Tapi tak menggodaku untuk sekedar bercengkrama dengan suasana di sana. Barisan pohon dikanan dan kiri jalan seakan merayuku untuk sejenak singgah dibawah pelukannya. Namun aku tetap tak tergoda.
Rasa kantuk mulai menyerangku. Suasana pagi menjelang siang dengan udara segar menerpa wajahku benar-benar telah membuaiku menuju alam bawah sadar. Tanpa bisa kutahan, aku ketiduran.

--jakarta,Awal Sept 2006--
---Sastrawan Pinggir Jalan---

1 Comments:

Blogger Unknown said...

Casinos Near Harrah's Casino - Mapyro
Find 경산 출장안마 the nearest 경주 출장마사지 casinos to Harrah's Casino in 안산 출장샵 Atlantic City using GPS. Trails marked on 충청북도 출장마사지 the map are marked with 익산 출장안마 red, green and blue.

8:28 PM  

Post a Comment

<< Home