Thursday, August 10, 2006

Sate dan Konsistensi

Udara diluar masih belum beranjak dingin, selayaknya malam akan menuanikan tugasnya menggantikan siang. Aku masih tertidur ayam diatas kasur tua yang hampir rata dengan lantai kamarku yang tdk begitu besar. Sempat terlelap sebentar, mungkin kelelahan seharian bekerja. Lelap tidurku yang tak lama itu terusik tiba-tiba karena perutku mulai menyanyikan lagu keroncong kesayangannya, aku lapar.
Aku ayunkan langkah ke ruang tengah. Motor kupacu dan bayangan sepiring sate kambing kesukaanku sudah didepan mata. Dingin, rupanya malam sudah mulai memelukku dengan angin semilir yang tak lagi segar di udara sepolusi dan sepengap Jakarta. Ah…biarlah, dari dulu Jakarta memang seperti itu. Sayang, tak ada kata hati yang indah untuk mewujudkanya menjadi indah seindah sutera yang halus dan bersih.
Ah sudahlah, mari kita kembali ke sate kambing tadi. Tidak sampai 10 menit aku telah sampai di warung sate langgananku di ujung pertigaan jalan di belakang angkuh gedung-gedung tinggi Jakarta. Warakadah!...aku terperanjat. Apa pasal? Rupanya warung sate langgananku itu telah berubah jadi warung ayam bakar dan pecel ayam. Lha kok bisa?..pikirku saat itu. Memang sudah ada hampir 2 minggu ini aku tak mampir kesana, dan kudapati sekarang warung itu telah berubah jadi warung ayam bakar. Salahkah? Sama sekali tidak. Kupacu motorku menuju warung alternatif yang kebetulan tak jauh dari warung langgananku. “sate kambing 10 pak, bumbu kecap tidak pedas dan pake nasi..” seruku pada penjual sate. Sambil menunggu sate, aku iseng-iseng mencari tahu dalam pikirku kenapa warung sate langgananku pindah aliran? Bukankah ia telah punya banyak langganan, salah satunya aku?ehm..apa ya? Tidak lakukah? Ah..rasanya tidak juga, karena aku liat tiap malam selalu ada yang antri untuk makan disana. Ingin melakukan diferensiasi produkkah? Ah bagiku itu hanya teori para ekonom yang gagal membaca ekonomi Indonesia saja.
Beruntung sebelum sateku selesai dibakar, aku temukan kira-kira jawabanya yang pas. KONSISTENSI,..tapi bukan itu menurutku alasan si pemilik warung merubah dagangannya. Menurutku justru kata itulah yang tidak dipahami si pemilik warung. Kok bisa? Ya bisa saja, aku beranggapan bahwa dia (pemilik warung) telah gagal memaknai arti konsistensi dalam konteks dagangan sate dia. Analisisnya, kenapa dia harus bersusah payah membangun brand serta image makanan dia dari bawah lagi? Bukankah lebih baik dia konsisten dengan dagangan dia kemarin dan menjaga kualitas dagangannya sehingga warungnya tetap disukai orang? Itulah makannya aku katakan dia tidak konsisten. Konsisten menurutku bukan kata serapan yang susah dipahami, konsisten mengandung unsur-unsur kata jawa. Konsisten itu: “diKON waSIS lan telaTEN” (terjemahan bebasnya: disuruh pandai bicara/menawarkan dan telaten/ setia dan rajin) nah, jadi sudah jelas bahwa konsisten atau konsistensi itu harusnya sudah mendarah daging di masyarakat bawah. Nah, kebetulan si pemilik warung tadi juga orang jawa dan dari kalangan kebanyakan.
Aku percaya, seandainya dia tidak merubah aliran warungnya seperti sekarang bisa jadi warungnya akan jadi tujuan utama para pecinta sate kambing di belakang rumit dan berantakannya gedung pencakar langit di kawasan sudirman. Begitulah, resep yang kupahami: SATE + KONSISTENSI = SUKSES….

Jkt, Malem Jumat, 10 agsts 2006,Sang pengelana

0 Comments:

Post a Comment

<< Home